Mau Berpergian dengan Pesawat ? Perhatikan etika-etika ini

Bepergian dengan pesawat adalah suatu pengalaman yang dapat dirasakan oleh banyak orang. Terbang tidak lagi identik dengan pengalaman orang kaya. Di era penerbangan berbiaya murah, harga tiket pesawat untuk rute-rute tertentu sangat menggoda. Jakarta — Lampung pernah dihargai Rp 190.000,-, sedangkan Jakarta — Palembang pernah menyentuh harga Rp 331.000,-.  

Jakarta — Medan yang ditempuh selama kurang lebih dua jam juga pernah dijual Rp 299.000,- (lebih murah daripada total ongkok Jakarta — Medan via darat dengan bus). Di masa tersebut, banyak orang yang akhirnya pernah merasakan naik pesawat yang sebelumnya dirasakan sangat mahal.  “Kami membuat orang-orang terbang” dan “Sekarang setiap orang dapat terbang” adalah jargon dari dua maskapai penerbangan berbiaya murah yang hingga sekarang masih beroperasi.  

Mereka memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk menikmati rasanya bepergian dengan pesawat. Semakin banyak orang yang terbang, maka etika ketika “terbang” pun penting untuk disebarluaskan.  

Proses terbang dengan pesawat terdiri dari tiga tahapan, yaitu sebelum naik ke pesawat, saat berada di dalam pesawat, dan meninggalkan pesawat.  Setiap tahap terdiri dari beberapa proses yang harus dilewati satu persatu.

Kepatuhan kepada setiap tahap akan membantu perjalanan menjadi lancar. Ketepatan waktu dan kepedulian kepada sesama penumpang adalah dua perilaku yang akan membuat perjalanan menjadi lebih nyaman.  Dengan sedikit pemahaman tentang proses ini, etika terbang dapat membantu mewujudkan budaya rapi dan beradab ketika menggunakan jasa transportasi udara.

timedotcom.files.wordpress.com

Tahap pertama “terbang” adalah sebelum naik ke pesawat. Di tahap ini Anda harus melakukan proses cek in, memasukkan bagasi, menerima boarding pass dan menunggu di ruang tunggu sesuai dengan pintu keberangkatan.  Ketepatan waktu sangat menjamin apakah seseorang akan terbang atau ditinggal pesawat.

Etika “terbang” yang pertama dimulai ketika proses naik ke pesawat. Mengantri adalah kewajiban. Selain itu, yang terpenting adalah mengantri sesuai dengan urutan nomor tempat duduk Anda.  Di Indonesia, penumpang langsung berhamburan menuju pintu keberangkatan ketika mendengar panggilan naik pesawat.  

Ini bukan sikap yang etis.  Penumpang harus mendahulukan orangtua, ibu dengan bayi dan anak-anak karena mereka lambat dan membutuhkan bantuan untuk mencari tempat duduk  Kadang, petugas mengumumkan bahwa penumpang dengan nomor tempat duduk 16 — 31 atau di zona 1, zona 2 dan seterusnya, dipersilahkan untuk masuk ke pesawat terlebih dahulu. Itu adalah nomor-nomor kursi di deretan belakang.  

Bila mereka masuk pesawat, mereka langsung ke belakang dan meletakkan bagasi mereka di tempat bagasi kabin di atas Ini akan mempercepat proses naik ke pesawat Ikuti arahan dari petugas dan ijinkan mereka naik ke pesawat terlebih dahulu

ei.marketwatch.com

Etika “terbang” kedua adalah ketika Anda berada di dalam pesawat. Duduklah di kursi yang telah ditentukan sesuai dengan nomor di boarding pass.  Itu adalah hak Anda, sama seperti hak penumpang yang lain untuk duduk di tempat yang dia telah pilih.  

Kadang-kadang, ada kejadian penumpang duduk di kursi orang lain. Ini biasanya terjadi untuk tempat duduk di dekat jendela.  Rata-rata penumpang ingin duduk di jendela tapi kadang-kadang tempat itu sudah tidak tersedia ketika mereka cek in. Mereka masuk dan duduk duluan di kursi di dekat jendela berharap bahwa tempat itu akan kosong.  

Bila itu adalah tempat duduk Anda, dan seseorang duduk di kursi itu, minta bantuan awak pesawat untuk mencocokkan nomor kursinya dengan boarding pass.  Setelah Anda mendapatkan “hak” tempat duduk Anda, ucapkan terimakasih kepada penumpang tersebut.  Jika beruntung, dia akan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum.

www.wikihow.com

Etika berikutnya masih berhubungan dengan tempat duduk di pesawat. Bila Anda harus sering ke kamar kecil, pilih tempat duduk di pinggir jalan supaya Anda dapat leluasa keluar masuk tanpa harus mengganggu penumpang di sebelah Anda.  

Ketika Anda hendak merebahkan sandaran kursi, tengok sejenak ke belakang untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan penumpang yang ada di belakang kursi Anda. 

Dia mungkin sedang makan atau menggunakan laptop sehingga ketika Anda mendadak merebahkan sandaran kursi, hal ini akan menimbulkan ketidaknyamanan atau insiden kecil. Makanan atau minuman dapat saja tumpah, atau layar laptop bermasalah karena terkena sandaran kursi yang direbahkan terlalu cepat.

images.theconversation.com

Etika yang ketiga adalah ketika hendak meninggalkan pesawat.  Sesaat setelah pesawat mendarat, ia membutuhkan waktu untuk mengurangi kecepatan lalu bergerak menuju tempat parkir. 

Pesawat lalu akan berhenti hingga sempurna dan penumpang dapat meninggalkan pesawat.  Etika untuk meninggalkan pesawat adalah dimulai dari penumpang di tempat duduk yang depan, khususnya apabila pesawat diparkir di tempat yang menggunakan fasilitas garbarata dimana penumpang hanya dapat turun melalui pintu depan di sebelah kiri. 

Saya sering melihat penumpang langsung berdiri ketika pesawat sudah berhenti. Mereka lalu sibuk untuk mengambil barangnya yang disimpan di tempat bagasi di atas kabin dan langsung siap sedia untuk keluar. 

Hal ini sesungguhnya tidak perlu karena Anda tidak dapat keluar sebelum orang di depan Anda keluar.  Bila Anda meletakkan barang di belakang, bukan di tempat bagasi kabin di atas tempat duduk Anda, maka Anda harus menunggu hingga kondisinya cukup mudah bagi Anda untuk mengambil barang Anda tanpa mengganggu penumpang lain.  

Berikan jalan bagi penumpang yang duduk di depan Anda untuk mengambil barangnya lebih dahulu dan keluar dari pesawat. Apabila ketika Anda hendak keluar, lalu berpapasan dengan penumpang di depan yang hendak keluar dan mengambil barang, Anda harus dahulukan orang tersebut.

Etika “terbang” ini bukan suatu aturan baku. Ini hanya sekedar sebuah sikap etis atau pantas terhadap sesama pengguna jasa transportasi udara. Ini dirangkum berdasarkan

pengalaman selama bepergian menggunakan pesawat selama beberapa tahun belakangan ini. Semoga ini dapat membantu membuat masyarakat Indonesia menjadi semakin teratur dan rapi seperti di negara-negara maju.

Sumber : www.kompasiana.com

Share this post with your friends

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *